- Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Pendekatan konstruktivis dalam pengajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara ekstensif, atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya (Slavin, 1995)
Model pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran yang lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerjasama dalam kelompok. Namun Anita Lie (2008:29) berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Pelaksanaan prosedur model cooperative learning dengan benar akan memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif (Lie, 2008:29).
Pada pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 4 atau 5 siswa, dengan kemampuan yang heterogen. Maksud kelompok heterogen adalah terdiri dari campuran kemampuan siswa, jenis kelamin dan suku. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang berbeda latar belakangnya. Pada pembelajaran kooperatif juga diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar siswa dapat bekerjasama di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, memberikan penjelasan kepada teman sekelompok dengan baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan untuk diajarkan. Menurut Slavin (1995) selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan. Namun Roger dan David Johnson (dalam Lie, 2009:31) juga berpendapat bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap sebagai cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur pembelajaran koopertif harus diterapkan.
Lima unsur pembelajaran kooperatif tersebut menurut Roger dan David Johnson( dalam Lie, 2009:31) adalah:
- Saling ketergantungan positif
- Tanggung jawab perseorangan
- Tatap muka
- Komunikasi antar anggota
- Evaluasi proses kelompok
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan metode pembelajaran yang menekankan pada kerjasama siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan, sehingga pembelajaran ini sebagian besar aktivitas belajar berpusat pada siswa. Selain itu pembelajaran kooperatif juga dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, motivasi, minat dan aktivitas-aktivitas belajar siswa lainnya.
David W. Johnson dan Robert T. Johnson berpendapat bahwa:
“ Cooperative interaction is a biological necessity for humans ……….Cooperative interaction with others is essential for the development of trust, self confidence, goal setting, personal identity, and cognitive development, wich are the foundation for a persons mental health.”
Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan David Johnson dan Roger Johnson bahwa kerjasama adalah kebutuhan biologis untuk seseorang, dengan kerjasama dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri dan perkembangan kognitif. Oleh karena itu, model pembelajaran kooperatif dipilih untuk mengatasi masalah komunikasi siswa.
Ada tiga alasan mengapa pembelajaran kooperatif cocok untuk proses belajar mengajar dalam kelas adalah :
- Pembelajaran kooperatif lebih mudah dalam merancang, mengawasi, dan mengevaluasi pembelajaran serta usaha menghindarkan sikap individualis serta suasana kompetisi karena dalam pembelajaran kooperatif setiap siswa harus membantu dan mendukung teman lain.
- Dengan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan respon siswa, dapat mempererat persahabatan antar teman serta dapat membantu siswa yang kurang pandai karena siswa yang kurang pandai dapat leluasa bertanya pada teman mengenai materi yang belum dipahami, meningkatkan rasa saling memahami sesama yang penting untuk kehidupan siswa yang akan datang. Keadaan pembelajaran dibiarkan secara spontan apa adanya.
- Pembelajaran kooperatif menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. ( David W. Johnson dan Roger T. Johnson dalam Aidawati, 2008:11)
- Pembelajaran Kooperatif Metode Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu)
Salah satu metode pembelajaran kooperatif adalah metode Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu). Menurut Lie (2008:61), metode pembelajaran ini dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992) dan biasa digunakan bersama dengan metode Kepala Bernomor (Numbered Heads). Metode pembelajaran Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan kelompok lain. Hal ini dilakukan karena selama ini masih banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai kegiatan individual saja
Metode pembelajaran ini juga bertujuan agar siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain (Herdian, 2009). Tahap-tahap pelaksanaannya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima tamu (dua orang dari kelompok lain), kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, kemudian laporan kelompok-kelompok.
Untuk lebih jelasnya langkah-langkah penerapan metode pembelajaran Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) diuraikan oleh Anita Lie (2008) sebagai berikut.
- Guru menyampaikan indikator dan tujuan pembelajaran
- Guru menggali pengetahuan siswa tentang materi yang akan dipelajari melalui tanya jawab
- Guru mempresentasikan tata cara pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu)
- Guru memberikan pengarahan tentang hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kooperatif seperti: semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan belajar anggota kelompoknya, menghargai pendapat teman, saling membantu selama proses pembelajaran, membagi tugas individu sehingga semua anggota mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mempelajari materi
- Siswa dibagi dalam kelompok, masing-masing kelompok beranggotakan 4 orang siswa
- Guru memberikan beberapa tugas dan pertanyaan yang harus diselesaikan siswa secara berkelompok
- Siswa bekerja sama dalam kelompok tersebut, yang disebut dengan kelompok awal. Dalam kelompok awal ini siswa berdiskusi tentang semua permasalahan yang diberikan oleh guru
- Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya dan bertamu ke kelompok lain. Dalam kelompok ini, siswa berbagi informasi tentang berbagai permasalahan yang telah dipecahkan dalam kelompok awal. Kelompok ini disebut dengan kelompok bertamu dan menerima tamu.
- Dua siswa yang tinggal dalam kelompok awal bertugas membagikan hasil kerja dan informasi kepada 2 siswa yang bertamu ke kelompok tersebut
- Setelah batas waktu bertamu dan menerima tamu habis, tamu mohon diri untuk kembali ke kelompok awal dan melaporkan hasil tukar informasi dari kelompok lain
- Siswa yang bertamu ke kelompok lain dan siswa yang bertugas menerima tamu dari kelompok lain saling mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja siswa
Pembelajaran kooperatif model Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) ini terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut.
- Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ini, hal yang dilakukan guru adalah membuat silabus dan sistem penilaian, desain pembelajaran, menyiapkan tugas siswa dan membagi siswa dalam beberapa kelompok yang masing-masing kelompok terdiri atas 4 orang siswa. Setiap anggota kelompok harus heterogen dalam hal jenis kelamin dan prestasi akademik siswa.
- Presentasi Guru
Pada tahap ini, guru menyampaikan indikator pembelajaran, memberikan pengetahuan awal tentang materi yang akan dipelajari dengan melakukan tanya jawab dan sedikit ceramah, mengenalkan dan menjelaskan tentang model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
- Kegiatan Kelompok
Dalam tahap ini, kegiatan pembelajaran menggunakan lembar kegiatan yang berisi tugas-tugas yang harus dipelajari oleh tiap-tiap siswa dalam satu kelompok. Setelah menerima lembar kegiatan yang berisi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan konsep materi dan klasifikasinya, siswa mempelajarinya dalam kelompok kecil yaitu mendiskusikan masalah tersebut secara bersama-sama anggota kelompoknya. Masing-masing kelompok menyelesaikan atau memecahkan masalah yang diberikan dengan cara siswa sendiri. Kemudian 2 orang siswa dari masing-masing kelompok bertamu meninggalkan kelompoknya ke kelompok yang lain secara terpisah, sementara dua siswa yang lain tinggal dalam kelompok dan bertugas membagikan hasil kerja dan informasi siswa ke tamu siswa. Setelah memperoleh informasi dari 2 anggota kelompok yang tinggal, tamu mohon diri dan kembali ke kelompok awal dan melaporkan informasi dari kelompok lain kemudian mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja siswa.
- Formalisasi
Setelah belajar dalam kelompok dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan, salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya untuk dikomunikasikan atau didiskusikan dengan kelompok lainnya. Kemudian guru membahas dan mengarahkan siswa ke bentuk formal. Selanjutnya guru mengadakan tes tulis untuk mengetahui keberhasilan siswa selama proses pembelajaran.
Sebagaimana metode pembelajaran yang lain, metode Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan. Susanti (2009) menyebutkan ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu).
Kelebihan tersebut antara lain sebagai berikut.
- Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan
- Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
- Lebih berorientasi pada keaktifan
- Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar
Sedangkan kekurangan dari metode Two Stay Two Stray (Dua Tinggal Dua Tamu) ini ditulis sebagai berikut.
- Membutuhkan waktu yang lama
- Siswa cenderung tidak mau belajar dalam kelompok
- Bagi guru membutuhkan banyak persiapan (materi, dana, dan tenaga)
- Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas
Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut, guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis maka dalam satu kelompok terdiri dari 1 orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang yang berkemampuan akademis sedang, dan satu siswa berkemampuan kurang (Lie,2008). Pembentukan kelompok heterogen memberi kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang berkemampuan akademis tinggi, diharapkan bisa membantu anggota kelompok yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar